Indah Patmawati

Indah Patmawati, Widyaiswara di P4TK PKn dan IPS. Lahir di Madiun, sebuah kota yang penuh sejarah dan terkenal dengan nasi pecelnya. Alamat di Jalan Parianom B4...

Selengkapnya
Navigasi Web
DIKLAT BAWA LAPTOP!

DIKLAT BAWA LAPTOP!

Hari ke-25

Tidak ada kata terlambat bagi mereka yang ingin belajar, begitu kata orang-orang bijaksana. Ya nggak? Seperti yang kualami saat ini. Sejak prahara di tahun 2013 kemarin, aku sudah insyaf dan ingin tobat. Makanya sekarang aku mau belajar.

Ceritanya, ujug-ujug entah bagaimana asal muasalnya aku dipanggil untuk ikut pelatihan jadi Guru Inti. Tahukan guru desa dan sudah tua seperti aku ini, seumur-umur nggak pernah ikut pelatihan. Dan selama ini aku nggak ambil pusing. Toh, selama ini ya lancar-lancar saja.

Begitu dapat panggilan Diklat ya berangkat gitu aja. Paling Diklat ya hanya duduk manis sambil mendengarkan ceramah. Saat itu aku memang gak paham apa maksudnya jadi Guru Inti.

Saat Diklat disuruh bawa laptop, untungnya sebulan yang lalu, aku baru membelikan anakku yang kuliah. Jadi amanlah... persyaratan bisa kupenuhi.

Diklat selama lima hari, tentang kurikulum 2013. Tahu nggak tiap kali masuk ruang kegiatan aku selalu keluar keringat dingin, padahal ruangan tempat pelatihan ber AC. Aku nggak 'mudeng' apa yang disampaikan instruktur nya. Disuruh buka laptop aku cuma tolah toleh karena memang aku nggak bisa. Disuruh bawa Yo tak bawa gitu aja...

Setelah selesai Diklat, semua guru inti langsung dijadwal untuk mengajar pada guru sasaran. Gloodakkk...!!!! Hampir pingsan aku.

Mana mungkin aku bisa mengajar pada guru sasaran? Apa yang harus kuajarkan wong aku gak paham materinya. Apalagi aku blas nggak bisa mengoperasikan laptop. Kepalaku langsung cemot-cemot. Mau menolak juga nggak bisa. Trus aku kudu piye jal?

Awalnya sih, aku gagap dan bingung. Selama ini aku tak pernah muncul di dinas. Tidak menjadi orang penting yang dibutuhkan dinas. Aku hanya guru ndeso, yang begitu bangga mengajar anak-anak kelas satu. Tidak perlu teknologi canggih, cukup perhatian dan kasih sayang saja.

Meski belepotan sana-sini tapi tetap menjalankan tugas sebagai guru inti, menjadi fasilitator instan. Belajar bersama-sama dengan guru sasaran perlahan-lahan membuka cakrawala ilmuku. Baru kupahami setelah beberapa putaran menjadi guru inti.

Kebangeten yang nunjuk aku jadi Guru Inti. Kalau katanya karena sistem, sistem apaan tuh. Nguawuurr menurutku.

Tapi, sejak kejadian itu. Aku jadi insyaf. Bahwa jadi guru tidak melulu mengajar, tapi harus belajar untuk meningkatkan kompetensi. (Baru tahu istilah kompetensi nih...hehehe). Belajar berbagai ilmu dan keterampilan yang menunjang kemampuanku dalam mengajar. Kini aku mendatangkan guru untuk mengajari mengoperasikan laptop. Lumayan sudah bisa membuat power point, sudah bisa excel. Alhamdulillah. Meskipun ngetik pakai sebelas jari, yang penting sekarang lancar.

Belajar memang tak kenal usia. Begitukan?

#TantanganGurusiana

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Saya masih 11 jari

08 Feb
Balas

Hehehe yg penting kecepatan nya kan

08 Feb
search