Indah Patmawati

Indah Patmawati, Widyaiswara di P4TK PKn dan IPS. Lahir di Madiun, sebuah kota yang penuh sejarah dan terkenal dengan nasi pecelnya. Alamat di Jalan Parianom B4...

Selengkapnya
Navigasi Web
TAK BISA SELOW GITU!

TAK BISA SELOW GITU!

Hari ke-17

Pernah nggak kalian flash back pada masa kecil, saat duduk di bangku sekolah dasar? Mengingat kembali bagaimana guru-guru kita dulu mengajar. Uhuuuuiii, pasti menyenangkan dan mengesankan. Iya nggak?

Beberapa waktu yang lalu aku dan teman-teman mengadakan reuni SD, tidak banyak temanku SD hanya sekitar 23 orang. Itupun tidak semua hadir, karena ada beberapa yang sakit dan bahkan sudah meninggal. Yang paling menarik dari pertemuan itu adalah ketika kami mencoba mensimulasikan saat jadi murid. Mulai bagaimana kami berbaris di depan kelas hingga masuk dan duduk pada posisi sesuai saat kami SD plus pasangan duduknya.

Tiba-tiba Basuki salah satu temanku yang paling "mbetik" saat itu, maju memeragakan menjadi guru yang paling ditakuti oleh anak-anak. Namanya Bu Er. Setiap beliau masuk kelas, suasana jadi hening. Nyaris tak ada suara, bahkan untuk bernapas saja sepertinya kami sangat hati-hati, agar tak menimbulkan 'kesialan' hehehe. Kompak kami juga memeragakan hal seperti itu. Bedanya untuk saat ini kami selalu gagal menciptakan suasana hening, bahkan kami ngakak bersama-sama.

"Mana PR kalian!" suara keras Bu Er gadungan (Basuki) memecah suasana. Sontak kami terkejut, ribut sesaat karena kami bingung saling bertanya PR yang mana yang dimaksud Bu Er (Basuki). Tak ayal ada kapur terbang ke arah kami karena telah membuat keributan. Serempak kami diam sambil berdoa agar Bu Er (Basuki) tidak mendatangi tempat duduk kami. Sebab kalau mendekat itu berarti alamat buruk. Harus menyiapkan telinga sebagai persembahan.

Aseeemmm....! Basuki si bu guru gadungan itu mendekati tempat dudukku. Benar saja dugaanku. Tiba-tiba dia menjewer telingaku. Disambut tawa teman-teman, mereka pasti ingat kalau dulu aku termasuk langganan dapat jewer karena suka ramai di kelas. Hehehehe...

Sakit nggak rasanya dijewer itu? Yuppss sakit banget, di samping itu juga malu sama teman. Tapi aku nggak pernah mengadu sama orang tuaku lho. Juga melarang atau mengancam teman-teman agar tidak mengadukan pada ibu atau bapakku. Kalau pun mengadu pasti beliau akan menyalahkanku, bahkan justru beliau berterima kasih pada bu guru karena telah menjewerku. Artinya di sekolah sikapku tidak baik dan harus diingatkan supaya menjadi lebih baik. Orangtuaku sangat percaya pada guruku di sekolah. Bahwa yang dilakukan padaku pasti untuk kebaikanku bukan merupakan penganiayaan.

Betul juga, aku menjadi pribadi yang tegar dan tidak cengeng. Menerima resiko dari setiap perbuatan yang telah kulakukan dengan lapang dada dan tidak mudah mengeluh.

Bukankah ini juga pendidikan karakter?

Sikap orangtua tua yang tidak over protektif padaku saat di kelas juga bagian dari pembelajaran karakter yang bersifat kontekstual.

Reuni jadi lebih hidup dengan acara simulasi ini. Mengenang kekonyolan saat kecil dan perlakuan bapak ibu guru dalam mendidik kami akhirnya menjadi bahan diskusi yang paling gayeng.

Sekarang pendidikan karakter dibumikan lagi, Guru sebagai pengganti orang tua di sekolah mempunyai tanggung jawab yang besar untuk menanamkan karakter yang baik kepada siswa. Karakter yang senantiasa menjunjung tinggi adat ketimuran yang tak lepas dengan nilai-nilai Pancasila. Zaman memang sudah berubah, arus perkembangan teknologi melesat lebih cepat dari anak panah. Akibatnya pola berpikir masyarakat juga berubah. Dulu, orangtua murid 100% mempercayakan putera puterinya kepada sekolah. Apa pun yang dilakukan guru kepada siswa semua bertujuan untuk mendidik dan membentuk kepribadian siswa menjadi lebih matang, dewasa, dan tahan banting (baca: tidak mudah menyerah). Hampir tidak pernah ada protes terhadap apa yang dilakukan oleh guru (baca: hukuman pada siswa), sekalipun itu terkait dengan kekerasan fisik, pun tidak ada yang komplain juga ketika guru mengatakan kata-kata pedas kepada siswa. Mereka percaya sepenuhnya bahwa apa yang dilakukan guru memiliki tujuan yang baik. Itu saja.

Sekarang, tidak bisa seperti itu. Seiring dengan meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap berbagai hal, kepercayaan mereka kepada sekolah mulai berkurang. Barangkali ini merupakan fenomena yang terjadi di dunia pendidikan di abad sekarang ini.

Dilematis pola asuh di rumah menjadi kecenderungan orang tua berlaku posesif terhadap anaknya. Di satu sisi instensitas pertemuan orang tua dengan anak yang sangat terbatas membuat mereka cenderung memberikan perhatian lebih dan memanjakan. Sehingga tidak boleh ada yang mengganggu atau menyakiti anaknya. Di sisi lain anak utamanya usia sekolah dasar butuh penanaman budi pekerti yang kuat sebagai pondasi pembentukan karakternya kelak di kemudian hari.

Tidak hanya orang tua yang mengalami dilema. Guru juga mengalami hal yang sama. Dilema dalam dunia pendidikan dalam upaya pembentukan karakter siswa, mau tidak mau harus dialami oleh semua guru.

Sesuai dengan tupoksinya yang sangat berat selain mengajar guru juga harus mendidik dan melati/membimbing. Beban sebesar itu masih ditambah dengan tugas-tugas yang lain yang tak kalah berat. Pada dasarnya tidak ada guru yang berniat buruk pada siswanya. Ketika memberi tugas yang banyak mereka sebenarnya sedang melatih siswa untuk bertanggung jawab dan konsekuen terhadap apa yang dibebankan padanya. Ketika mereka diberi hukuman, sebenarnya mereka dididik untuk menyadari kesalahannya dan secara sportif mengakui kesalahannya. Tetapi kadang, niat baik tidak direspon baik, yang sering terjadi malah menimbulkan masalah yang mungkin di luar perhitungan dan niat baik guru.

Pernahkan mendengar guru yang dilaporkan polisi, karena menamparkan, mencubit siswanya. Guru didakwa telah melakukan penganiayaan terhadap sisw. Benakah demikian? Bukankah guru itu orang tua kedua bagi siswa. Sampai sejahat itukah guru?

Akibatnya, guru menjadi miris dan takut mengingatkan siswa. Mereka cari aman saja, sebab guru juga punya anak dan keluarga. Guru juga ingin hidup aman dan tenteram dalam keluarganya. Pendidikan karakter yang diberikan ya yang aman-aman saja. Kalau bisa dinasihati dan diingatkan ya dilakukan. Sebaliknya bila siswa tidak bisa diingatkan atau kalau diingatkan orang tuanya tidak terima. Akhirnya ya dibiarkan saja. Begitulah. Mengapa terjadi seperti itu? Karena guru tidak mau berurusan dengan polisi, bisa mencemakan nama baik kan?

Obrolan seputar fenomena dunia pendidikan semakin gayeng. Aku menyimak saja. Sebab aku adalah guru, dalam hati membenarkan apa yang ada dalam diskusi mereka.

Memang susah jadi guru zaman sekarang, ya. Kadang takut dipolisikan kalau ingin mendidik anak sedikit lebih disiplin.

Yang penting semua dalam batas yang wajar dan mendidik, aman kan?

Selow aja gitu kaliii....!

Sssttttttt nggak boleh gitu! Hayo semangat, saatnya berjuang mewujudkan INDONESIA YANG KUAT DAN BERKARAKTER!

#TantanganGurusiana

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Heheheheee...kenapa murid selalu suka mensimulasikan cara gurunya mengajar nggih Bunda Indah Patmawati? Saya jadi teringat saat reuni dulu. Kok ya sama...heheheheee...

01 Feb
Balas
search