Indah Patmawati

Indah Patmawati, Widyaiswara di P4TK PKn dan IPS. Lahir di Madiun, sebuah kota yang penuh sejarah dan terkenal dengan nasi pecelnya. Alamat di Jalan Parianom B4...

Selengkapnya
Navigasi Web
GELAR KEHORMATAN (Bag.2): Sp.L (Spesialis Lomba)

GELAR KEHORMATAN (Bag.2): Sp.L (Spesialis Lomba)

Hari ke-16

Siapa pencetus awalnya, aku nggak tahu pasti. Tiba-tiba mak benduduk ada begitu saja. Ini tentang pengklasifikasian guru. Ada guru spesialis diklat, guru spesialis lomba, dan guru 'utun' mengajar di sekolah.

Kau guru yang mana, hayoo?

Setiap orang pasti punya motivasi tertentu, setiap kali mengikuti ajang lomba. Ada yang sekedar memenuhi kewajiban karena ditunjuk oleh sekolah, ada yang memang berkeinginan untuk menang, ada juga yang ingin mengincar hadiah. Semua mempengaruhi usaha ketika mengikutinya. Ini kan bagian dari pengembangan profesi.

Sama sepertiku ketika ditunjuk untuk mengikuti lomba. Awalnya sih aku tak berpikir macam-macam. Tapi suatu ketika aku menang lomba dan mendapatkan hadiah yang lumayan banyak. Woww.... Senang sekali rasanya. Sejak saat itu aku selalu bersemangat untuk mengikuti lomba. Utamanya yang berskala nasional. Ada dua hal yang kusasar, yang pertama adalah prestice yang kedua tentunya koin yang banyak. Hehehehe...

Aku sering berburu informasi melalui website yang ada di internet. Sebab kadang-kadang informasi begitu tidak sampai ke sekolah. Atau dinas tak menginformasikan hal-hal seperti itu. Beruntung dengan adanya kecanggihan teknologi. Bisa berselancar dengan segala informasi yang menurutku penting.

Aku jadi sering mengikuti ajang lomba, sehingga banyak menyita waktuku untuk menyiapkan segala sesuatunya. Aku harus fokus dengan apa yang kukerjakan. Karena aku punya target untuk menang. Akibatnya aku tidak fokus mengajar, karena aku harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk bisa menampilkan karya yang baik. Anak-anak paling hanya kuberi tugas-tugas, selebihnya mereka kubiarkan berekspresi sendiri. Meskipun aku duduk di kelas menunggui mereka, tapi aku lebih berkonstrasi pada pekerjaanku. Aku memberi kebebasan pada anak-anak untuk belajar apa saja, yang penting tidak ramai dan tidak membuat ulah yang menimbulkan masalah.

Ketika lomba aku sering membuat inovasi-inovasi dalam pembelajaran. Keren kan? Aku mempelajari banyak referensi untuk mendukung argumentasiku. Nah, nasib baik memang berpihak padaku. Beberapa kali aku selalu menang dalam lomba. Dapat laptop baru, dapat uang banyak, bahkan sering juga dapat hadiah jalan-jalan ke luar negeri. Duuuhhhh, bangganya. Tidak semua guru lho, seberuntung aku. Sumpriiit!

Namaku banyak dikenal di mana-mana. Mulai dari tingkat daerah, provinsi, sampai tingkat nasional. Aku menjadi langganan juara tiap ada lomba inovasi pembelajaran. Ini memang prestasi yang luar biasa bagiku. Sekolah akan bangga punya guru sepertiku, anak-anak juga bangga tentunya diajar oleh guru yang kreatif sepertiku.

Pernah pada saat upacara bendera hari Senin, kepala sekolah mengumumkan prestasi yang kuperoleh. Beliau memaparkan ringkasan inovasi pembelajaran hasil karyaku yang mendapat juara. Saat itu hatiku bangga luarbiasa, sebab ini adalah prestasi yang ke sekian kalinya dalam semester ini. Ibarat bunga dari kuncup sekonyong-konyong langsung mekar ketika dihembus angin. Tepuk tangan meriah dari semua siswa. Ucapan selamat juga kuterima dari teman-teman guru.

Aku tahu tidak semua guru memberi ucapan selamat dengan hati yang tulus, sebab bukan aku tidak tahu jika mereka ada kasak kusuk di belakangku. Tapi bodo amat! Yang penting dapat juara, beres.

”Bu, sekali-kali inovasi pembelajarannya diterapkan pada kami dong, biar kami bisa merasakan asyiknya belajar bersama ibu. Selama ini kami kan setia menunggui ibu berkreasi,” kata salah seorang siswa di sela-sela keriuhan sehabis upacara bendera.

”Glodaaaakkk!”

Seperti ada petir di siang bolong menyambar mukaku hingga gosong, hitam, dan menakutkan. Aku seperti ditampar. Berani benar siswaku itu, menyatakan keinginannya. Aku diam tak bisa berkata-kata. Sedangkan kepala sekolahku yang mendengar permintaan siswa tersenyum penuh arti dan beberapa guru yang lain mengacungkan dua jempol kepada siswaku tadi.

Adakah konspirasi di antara mereka?

Apakah mereka sengaja menjatuhkan aku? Bukankah keberhasilanku ini membawa nama harum sekolah? Apakah salah dan dosaku sayang?

*****

Semua memang ada batasannya, yang sifatnya ”terlalu” itu tentunya tidak baik akibatnya. Sebab lama-lama akan kehilangan nurani. Jadi, kalau niatnya jadi guru, ya cintai pekerjaanmu dengan segenap jiwa raga. Fokus pada profesi utama.

”Tupoksi guru itu mendidik dan mengajar. Mendidik dan mengajar. Mendidik dan mengajar! Ingat itu!”

Boleh mengikuti lomba, asal tidak lupa pada tugas utama. Waspadalah, waspadalah!

#TantanganGurusiana

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Nah itu. Saya kadang nggak tertarik ikut lomba seperti itu. Banyak oknum. Inovasi hanya untuk dirinya. Harusnya inovasi itu dipraktikkan ke anak. Jikalau ikut lomba anak sudah tahu gurunya penuh inovasi. Ini terkadang saya lihat, ngajar ketika ada kepentingan saja.

30 Jan
Balas

Benar sekali Bu...makanya kita harus bijak menyikapi hal yang sangat sensitif ini. Harus pandai mengatur waktu dan saling berkomunikasi dengan teman guru dan kepala sekolah.

18 Feb
search